berkali-kali kulukis wajahmu
dalam lembar-lembar malam yang hitam
dan setiap kali hujan datang dengan kecemasan berbau angin
satu persatu kehampaan berguguran di mataku
maka aku benar-benar yakin
bahwa kau adalah jauh
bahwa kau adalah akhir
dari perjalanan tanpa ujung
selayaknya hidup hanyalah sebatas angin
dalam kembara dan penempuhan tanpa arah
dan aku hanya lelaki di tengah hujan
hanya harap hanya cemas
hanya dingin hanya sunyi
hanya mimpi tentang kau
Sabtu, 26 Februari 2011
hanya mimpi
ImaJiNaSi
panorama sejuta kata menembus rangka rembulan
yang terbelah menyerupa diriku
Ingin hati berlari mengejar gemintang
tapi pekat malam begitu erat mendekap
tersangkut di pelataran purnama yang membuai
hanya mampu menyaksikan kerlipmu
Cahayamu, satu persatu luruh dan silaukan mata
meredup saat fajar, kadang terangnya memecah kelamnya malam
mengingatkan saat metamorfosamu
yang menggelegak bagai ombak
Sejenak ku terhanyut dalam lautan imajinasi
hanya.....imajinasi
taman koleksi
Siang itu, angin mendesau mengiringi langkah-langkah kakiku yang sedikit gontai. Dari kejauhan, mentarimu merasuki belukar hatiku yang belum terjamah. Acapkali memasung mataku menerawang menembus awan putih...dan Taman Koleksi itu mengabadikan cerita kita.
Akh, hatiku berbalik seratus delapan puluh derajat. Suara mu telah berhasil meruntuhkan kebekuanku yang panjang. Ku katakan "kau telah menghipnotisku" dengan suara manja dan sedikit menggelitik. Seketika tawamu menderai renyah....bunga-bunga di Taman Koleksi itupun merekah.
Kemudian, kupuja dirimu diantara sekian bintang-bintang yang menyapa. Dan ketika kuarahkan jari telunjukku yang ramping ke arah batang hidung mu, spontan kau mendesis menyebut kalimat-Nya.
Bulan pun berganti. Kau dan aku tergelak merenangi peluh dan aliran darah yang menyatu....syahdu dalam bait-bait malaikat-Nya. Kau dan aku mengikat janji sehidup semati.
Akh, hatiku berbalik seratus delapan puluh derajat. Suara mu telah berhasil meruntuhkan kebekuanku yang panjang. Ku katakan "kau telah menghipnotisku" dengan suara manja dan sedikit menggelitik. Seketika tawamu menderai renyah....bunga-bunga di Taman Koleksi itupun merekah.
Kemudian, kupuja dirimu diantara sekian bintang-bintang yang menyapa. Dan ketika kuarahkan jari telunjukku yang ramping ke arah batang hidung mu, spontan kau mendesis menyebut kalimat-Nya.
Bulan pun berganti. Kau dan aku tergelak merenangi peluh dan aliran darah yang menyatu....syahdu dalam bait-bait malaikat-Nya. Kau dan aku mengikat janji sehidup semati.
Akhir sebuah kekecewaan
Akhir sebuah kekecewaan
gelagat mu cermin sempurna mata bathin mu yang sarat galau
kusaksikan hujan menderas di pelupukmu
yang acap kau selipkan dibalik rinai senyum mu
Ku koyak tabir senja mu
ku hantarkan segenggam rembulan di pekat langit mu
hitam, kelam, tak bernuansa.....
hanya pojok2 lengang yang kelam dan mencekam sudut sanubarimu
yang keropos dan rapuh
Dan, kau terdampar di sebuah pulau
yang menawar janji syurga tak bertepi
Lalu, aromamu semilir menusuk hidungku, terbawa angin sore itu
kurasai denyut nadi mu yang menyisakan setumpuk luka
Mengapa???
Kau renda luka diatas sulaman yang telah menganga
bekukan hangat rindu pada sang surya
sementara, tambal sulam mu mengisahkan nista dibalik tabir kecewa
"sungai takdir telah hanyutkan ku" lirih mu
Kuhempas silau mu dengan sejuta peka yang menyisa
kuseka pipimu yang berlinang merah basah
kembalilah!
kurengkuh penat mu dalam dekapan rindu syurga-Nya.
puisi lukisan hidup
Lukisan hidup
bidadari bersayap warna warni dan tawa
melepas pergulatan kisah yang tiba2 mengada
menggerus waktu dan beranjak segera
Aku rembulan yang tidak pernah miskin gelisah
dan kau mentari yang tak jua padamkan gundah
kita sama2 beringsut menanti persuaan akrab
pesisir yang dibuai lembut buih dan tiupan angin
Kupajang lukisan hidupku di dinding mentarimu
dan kau mengelana sampai ke ujung tsabit
meniti sabar hingga bertabur purnama
Aku berhenti mengitari lengkung liuk cahayamu
walau bias hangatnya masih menelusup relungku
dan kau berserabut rindu menatap bingkai purnamaku
yang sepenggal dan patah-patah
Kau dan aku
hanyalah rembulan dan mentari yang saling menyala
Langganan:
Postingan (Atom)